top of page

SEA2: Ajang Komunikasi dan Silahrutahmi antarnegara Asia Tenggara

  • Nov 27, 2017
  • 4 min read

Bertemu dan berkumpul bersama teman-teman se-Asia Tenggara, merupakan suatu pengalaman yang sangat istimewa. Berjumlah 4 orang, kami, murid SMA Jakarta Nanyang School (JNY) BSD, Tangerang Selatan berkesempatan mengikuti acara SEA2 (Strategic Educational Alliance of Southeast Asia) di Roi Et, Thailand, 21-25 Agustus 2017. Tim kami terdiri atas Gianfranco Ongko, Kenley Woosnam, Jonathan Setiawan, dan Cindy Chang dengan didampingi oleh dua guru, Bapak Nesbit serta Ibu Intan. Selain JNY, tim lain dari Indonesia adalah Sekolah Darma Yudha, Pekanbaru.

Didasari tujuan mempererat hubungan antar kaum muda di Asia Tenggara, SEA2 pertama kali diselenggarakan pada tahun 2014. Setiap tahunnya, negara anggota akan mendapatkan kesempatan untuk menjadi tuan rumah. Pada kesempatan kali ini, SEA2 berlokasi di Sekolah Strisuksa, Provinsi Roi-Et, Thailand, diikuti oleh enam negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

Lima Hari yang Padat namun Menyenangkan

Perjalanan kami dimulai hari Senin, 21 Agustus 2017. Kami tiba di Bandara Roi-Et sekitar pukul 8 malam. Rasa letih dari perjalanan panjang tiba-tiba tersapu oleh kegirangan saat kami disambut meriah dengan kalungan bunga, senyum ramah, dan kehangatan. Setibanya di hotel, salah satu tempat acara, kami disambut lagi lebih meriah dengan tarian selamat datang. Suatu aura kegembiraan yang memompa semangat. Lalu kami menuju ballroom hotel dan bertemu dengan murid-murid dari sekolah lain. Walau jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, nyanyian dan tarian tidak kunjung henti, menyambut siswa-siswi yang baru saja datang. Kami pun diajak bergoyang dan bersenang-senang. Di sela keceriaan tersebut, kami juga mencoba berkenalan dengan beberapa teman baru dari negara yang berbeda-beda, yaitu: Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Indonesia.

Waktu berjalan dengan sangat cepat. Tidak terasa, satu malam telah berlalu dan rangkaian acara siap menunggu kami di hari kedua. Acara pertama pagi itu adalah pameran yang bertemakan Lifestyles of ASEAN Countries. Setiap negara terdiri atas beberapa tim, ada yang berbeda sekolah maupun berasal dari sekolah yang sama. Dengan rasa antusias yang penuh, kami menata booth dengan barang-barang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Pameran yang diadakan di Sekolah Strisuksa ini sangatlah ramai. Kami senang mendapatkan pengalaman berbagai budaya dari negara lain.

Setelah pameran, selanjutnya adalah kegiatan presentasi. Tema yang diangkat adalah Food Wastage dan setiap tim diberi giliran untuk memberikan opini, solusi, dan hal-hal yang sudah dikontribusikan oleh masing-masing sekolah. Di sini kami belajar bahwa permasalahan tentang pemborosan makanan bukanlah sesuatu yang sepele dan harus segera diatasi.

Pada malam hari kedua tersebut, setiap tim menampilkan sebuah drama singkat mengenai cerita rakyat dari masing-masing negara. Tim kami memilih cerita Timun Mas yang berasal dari Jawa Tengah, sedangkan tim Sekolah Darma Yudha, Pekanbaru, memilih Malin Kundang dari Sumatera Barat. Kegiatan ini mengajarkan kami untuk lebih menghargai budaya, terutama produk sastra lama.

“Kami sangatlah puas dengan hasil yang kami tampilkan karena sesuai dengan latihan selama 2 bulan ini,” ujar Corrie Windreis, salah satu murid SMA 1 Sekolah Darma Yudha yang juga mewakili Indonesia.

Padatnya acara dari hari kedua akhirnya mulai mereda saat memasuki hari ketiga. Kira-kira pukul 10 pagi, kami semua bergegas untuk pergi field trip. Matahari terik tidak mengurangi semangat kami untuk melihat indahnya Roi Et dari atas Phra Maha Chedi Chai Mongkol, salah satu candi terbesar dan terindah di Thailand. Perjalanan lalu dilanjutkan dengan mengunjungi salah satu pertanian yang luas menghijau di sana.

Selepas itu, kami bersiap-siap untuk acara selanjutnya, yaitu penampilan budaya dari masing-masing negara. Bisa dikatakan, Cultural Night malam itu merupakan highlight dari acara 5 hari kami di sana. Selain menggunakan baju daerah, kami pun menampilkan tarian tradisional yang tentunya setiap negara memiliki keunikannya sendiri. Sebagai contoh, tarian yang dibawakan oleh tim Thailand lebih identik dengan kelembutan dan keanggunannya. Di malam yang meriah tersebut, sekolah kami membawakan tarian Sajojo yang berasal dari Papua.

Waktu yang berjalan cepat akhirnya mengantar kami pada hari keempat di Roi Et. Semua peserta belajar menari tarian Loy Krathong Thailand. Walau terlihat sulit, setelah mencobanya sendiri ternyata tidak sesulit yang kami kira. Setelah itu, kami juga diajarkan membuat hiasan bunga yang disebut dengan Malai, boleh dibawa pulang sebagai kenangan. Untuk menutup acara SEA2 ini, kami dan juga para penggagas acara, makan malam formal bersama diiringi tarian dan musik yang sangat menakjubkan.

“SEA2 benar-benar merupakan suatu kesempatan baik bagiku untuk mengenal lebih dalam tentang budaya negara lain, juga berkenalan dengan teman-teman dari negara yang berbeda,” tutur Zheng Zhixin, peserta dari sekolah Nanyang Girl’s High School, Singapura. “Walaupun dibatasi jarak yang jauh, ternyata para kaum muda dari Asia Tenggara ini memiliki aspirasi dan kegemaran yang tidak sangat berbeda,” tambahnya.

Dengan berat hati, Jumat 25 Agustus 2017 kami harus meninggalkan Negeri Gajah Putih untuk kembali ke negara masing-masing. Banyak kenangan dan pengalaman menyenangkan yang mampu menghidupkan satu ruang masa remaja kami. Walau pertemuan kami dibatasi waktu yang singkat, kami tahu bahwa ini bukanlah akhir melainkan awal dari sebuah persahabatan baru.

Opini

Kornkamon Kawinwongpibool (Opor), 16 tahun, Thailand​​

Saya mempunyai beberapa tujuan dalam mengikuti acara SEA2 ini. Pertama, saya ingin memperluas lingkup pertemanan. Kedua, saya berharap melalui bertemu dan berkomunikasi dengan orang-orang dari negara yang berbeda, saya dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya. Terakhir, tentunya saya ingin menjadi lebih percaya diri.

Sebagai tuan rumah SEA2 tahun 2017 ini, saya merasa sangat terhormat. Kami semua juga sudah mempersiapkan untuk acara ini selama 3 bulan.

Jenny Sari Winata, 15 tahun, Indonesia​

Menurut aku SEA2 ini benar-benar terasa manfaatnya. Kita bisa merasakan banyak sudut pandang orang-orang dari luar negeri. Selain itu juga bisa bersosialisasi dan mendapat pengalaman yang berharga dan tidak bisa terlupakan. Hal yang paling aku sukai yaitu bertemu dengan banyak orang dan membuat teman sebanyak-banyaknya.

Muhammad Ikhwan bin Zahadi, 15 tahun, Brunei​

Acara ini merupakan kesempatan terbaik untuk mempelajari berbagai budaya dari negara lain. Di hari-hari pertama, aku merasa kurang percaya diri karena aku lihat orang-orang di sekitarku sangatlah pintar. Namun, setelah mengenal mereka lebih dalam, mereka ternyata sangatlah ramah dan seru. SEA2 tahun ke-4 ini jauh melebihi ekspektasiku.

Martina Marquez, 15 tahun, Filipina

Ini merupakan SEA2 pertama yang aku pernah ikuti. Dengan berpartisipasi dalam acara seperti ini, aku bisa melibatkan diri lebih dalam mengenai permasalahan di dunia, terutama di kawasan Asia Tenggara, seperti permasalahan teknologi sampai stereotipe suku dan budaya. Aku berharap ke depannya ada lebih banyak lagi kegiatan sehingga kami, para peserta, bisa mengenal satu sama lain lebih baik.

Muhammad Arif B Ghazali, 16 tahun, Malaysia

Dengan adanya pertemuan antar anak muda dari negara-negara di Asia Tenggara ini, hubungan antar negara pun dapat terjalin lebih baik. Lalu, acara ini juga dapat menciptakan pemimpin-pemimpin bangsa di masa depan. Terakhir, dengan banyaknya teman, hidup akan menjadi lebih menyenangkan.


Comments


Featured Review
Tag Cloud
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Google+ Icon
bottom of page