Membaca Cerita dari karya Marcelina Jovanka
- Feb 28, 2017
- 3 min read

Sebuah karya seni yang bernilai tinggi biasanya bersifat multi-interpretasi. "Tugas" seorang seniman selesai ketika karya seninya selesai dibuat. Proses selanjutnya adalah interpretasi (penafsiran) dari penanggap seni (audiens) yang seringkali penuh perdebatan, seperti, “Warna lukisan Mark Rothko yang terakhir itu maksudnya apa?”, “Tokoh di sebelah Yesus di lukisan Last Supper itu laki-laki atau perempuan?”.
Ini sebabnya banyak lukisan abstrak itu terkenal dan bernilai tinggi. Karena orang-orang hanya bisa menebak-nebak artinya. Pemahaman banyak orang terhadap satu karya seni bisa berbeda-beda. Pertanyaan dan perbedaan penafsiran itu yang seringkali membuat sebuah karya seni itu "seru" dibahas sehingga menambah nilai dari karya tersebut.
Dilihat dari komposisinya, karya Jovanka (Jojo) dari kelas Secondary 4 ini, tersusun dengan baik. Fokus karya tersebut berada di tengah. Keseluruhan karya tersebut secara horizontal terkesan seperti terbagi dua, dengan komposisi bukit di bagian bawah berbentuk "V" yang memberi ruang tokoh utama untuk bernafas. Dari segi komposisi warna, warna komponen-komponen dalam karya Jojo dimulai dari warna gelap di bawah (rumput berwarna hijau gelap), dan semakin terang ke atas (laut berwarna biru muda, dan langit oranye tipis), keputusan yang cukup cerdik, mengingat "porsi" langit di karya ini lebih sempit daripada porsi laut dan daratan di bawahnya (warna terang akan membuat langitnya terkesan agak lebih besar sehingga komposisinya cenderung seimbang).
Nah, setelah membedah komposisi karya Jojo, langkah selanjutnya adalah mencoba menafsirkan segi non-teknisnya. Segi sentimentilnya. Kita akan coba "menebak" pesan apa yang ingin disampaikan Jojo melalui karya ini.
Ada dua orang di dalam karya ini; Lelaki di sebelah kiri (Shon) duduk tegak melihat matahari terbenam di pinggir pantai, merangkul pundak perempuan di sebelah kanan (Lyra), yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu lelaki tersebut. Satu hal yang cukup jelas terlihat dari karya ini adalah, bila Anda membaca cerpen Jojo ( http://jnykata.wixsite.com/nanyang-kata/single-post/2017/02/28/Jarak-dan-Luka ), adegan ini tidak ada di manapun dalam cerpen tersebut.
Matahari terbenam seringkali ditafsirkan sebagai sebuah akhir. Gerak tubuh kedua orang tersebut jelas mewakili karakteristik mereka masing-masing, Shon (duduk tegak) digambarkan sebagai lelaki yang tangguh, berani, dan Lyra sebagai sosok penyayang yang cukup tergantung kepada Shon (kepala sedang bersandar). Perhatikan juga warna rambut perempuan itu. Penafsiran saya pribadi, adegan ini terjadi lama setelah cerita pendek itu berakhir. Lyra menjalani hidupnya hingga masa tuanya (rambut perempuan yang berwarna keabu-abuan), dan di akhir hidupnya, dia bersatu kembali dengan Shon, yang selalu setia menunggunya.
Ini mungkin sebuah adegan yang menggambarkan dimana semangat dan cinta kasih Shon menemani Lyra sampai akhir hayatnya.
Jadi benar apa tidak?
Banyak orang mengaitkan lukisan terakhir Mark Rothko (Black on Grey) dengan kematiannya yang tragis, dan kita hanya bisa berasumsi, hanya bisa menerka, menebak. Kalau Mark Rothko sendiri bisa menjawab, bisa jadi dia menjawab "saya kehabisan cat warna lain". Demikian juga kalau kita bertanya kepada Jojo apa arti dari karyanya, mungkin jawabannya berbeda sama sekali dari penafsiran saya.
Tapi terkadang ketika kita mencoba menafsirkan sebuah karya seni, kebenaran dari sudut pandang sang seniman itu bukan yang utama. Kita kembali kepada kalimat pembuka saya di paragraf satu; Tugas seorang seniman selesai ketika karya seninya selesai dibuat. Setiap orang akan memiliki penafsiran yang berbeda terhadap karya yang sama, dan penafsiran yang berbeda itu yang membuat orang memiliki efek/perasaan yang berbeda terhadap karya seni yang sama. Di sinilah karya seni itu menjadi hidup.
Jadi, mengambil contoh dari karya Jojo, buatlah karya seni yang (tidak hanya indah, tapi) membuka dialog. Buatlah karya seni yang membuka banyak pertanyaan, dan ketika orang-orang bertanya kepada anda apa artinya, diam. Biarkan mereka tenggelam dengan penafsiran mereka masing-masing.
Di sini saya menilai keunggulan karya Jojo dibanding karya lain: selain cenderung matang secara teknik dan memiliki pemahaman komposisi yang baik, karyanya pun mengundang kita untuk memiliki pemahaman yang berbeda. Good job Jo, keep it up!














Comments