Cinta Seorang Koki
- Jan 24, 2017
- 6 min read
16 November 2015: Aku
Halo, namaku Rika. Ibuku adalah seorang koki di sebuah tempat makan yang dibuka di rumah kami. Ibu memasak setiap hari tanpa henti. Jadi hanya ingin curhat dengan ibu saja sudah sulit sekali. Ayah sering kali ada tugas kantor di luar negeri. Jadi, biasanya di rumah hanya ada kedua kakak saya. Kedua kakakku pun sudah sibuk memilih universitas dan sibuk mencari kerja untuk membantu ekonomi keluarga. Terkadang pada hari Minggu, ibu bisa menutup tempat makan lebih cepat karena hari itulah yang sangat ramai. Biasanya ibu suka menanyakan perkembanganku dan kakak. Tetapi setiap kali aku bertemu ibu, pasti dimarahi. Aku memiliki masalah fokus di dalam kelas. Jadi saya lebih memilih untuk bekerja atau belajar sendiri tanpa teman-temanku. Ibu tidak mempercayai penjelasanku dan lama-lama aku berpikir itu ibu adalah ibu yang paling galak dan sudah tidak sayang denganku.
17 September 2015: Kehidupan Sekolahku
Setiap hari sekolah, aku pasti harus berjalan kaki ke sekolah. Sekolahku tidak jauh dengan rumah. Biasanya berpamitan sebelum berangkat. Setiba di sekolah, bisa terlihat sangat banyak ibu temanku memberi ciuman di kening mereka dan mengucapkan harapan mereka kepada anak-anaknya. Aku merasa sangat cemburu, tidak satu kecupan pernah diberi ibu saat aku berangkat ke sekolah. Penuh dengan rasa kecemburuan, aku berjalan ke kelas 12B.
Hari berjalan seperti biasa sampai jam istirahat. Jam ini lah yang paling aku benci. Banyak dari temanku membawa makanan masakan ibunya mereka dan memamerkan punya masing masing. Sedangkan aku… Ibuku adalah seorang koki dan pekerjaannya hanya masak setiap hari, tidak pernah satu kali pun aku pernah membawa makanannya untuk dibawa ke sekolah. Menurutku, masakan ibunya teman-temanku masih kalah jauh dengan masakan ibu. Jadi setiap jam istirahat, aku harus antri di barisan kantin yang makanannya menurutku di bawah standar. Setelah mendapatkan makanan dan duduk, tidak ada satu pun yang bisa berhenti bertanya pertanyaan yang menyebalkan seperti, “Kok gak bawa makanan sendiri?” dan “Emangnya kamu gak ada ibu buat membuat makan siang kamu ya Ri?”. Karena inilah terkadang aku lebih memilih untuk belajar atau makan sendiri. Di sekolah, aku tidak memiliki teman sama sekali.
18 November 2015: Hari Terburuk
Hari ini, aku dipanggil kepala sekolah. Setiba di ruangan kepala sekolah, hatiku berasa seperti ingin lepas. Di dalam ruangan kepala sekolah ada seorang wanita dan adalah ibuku sendiri. Aku tidak menyangka ibu punya waktu untuk ke sekolah. Bapak kepala sekolah mempersilakanku untuk duduk di sebelah ibuku. Setelah aku duduk, bapak kepala sekolah mulai menjelaskan nilai-nilaiku yang beberapa bulan ini turun dan ingin menanyakan kenapa. Yang pastinya, ibu terdengar kaget karena aku tidak pernah menceritakan hal-hal yang terjadi di sekolah ke ibu. Muka ibu penuh dengan kebingungan kenapa nilaiku bisa tiba tiba turun.
Sepulang ke rumah, tempat makan yang biasanya ramai dikunjungi orang malah ditutup. Aku sudah memiliki firasat buruk mengenai kondisi ini. Masuk rumah dan langsung menuju kamarku. Saat pintu bergeser menampilkan barang-barang yang ada di kamarku, ibu sudah menunggu di kamarku dengan sebuah rotan. Aku berbincang-bincang dengan ibu mengenai nilai di sekolah dan akhirnya terkena pukulan rotan ibu.
19 November 2015: Pengumuman Hari Ibu
Saat bangun pagi, bekas perih pukulan rotan sudah mereda dan aku siap ke sekolah. Rutinitas seperti biasa saat ke sekolah. Tetapi aku sudah bertekad untuk belajar lebih keras dibanding aku yang dulu. Dan aku ingin melatih kefokusan aku di kelas agar tetap fokus dalam pembelajaran.
Pada jam istirahat hari ini, para anggota anggota OSIS telah mengumumkan adanya Hari Ibu di sekolah aku dan akan dirayakan pada tanggal 22 Desember. Ini adalah pertama kalinya sekolahku merayakan Hari Ibu. Makanya perayaan ini diumumkan bulan sebelum perayaannya agar semua bisa bersiap.
Sesampai rumah melewati para pengunjung yang makan, saya langsung berlari menuju ke dapur. Di ruangan tersebut, diisi dengan asap makanan dan bau bumbu rempah-rempah terlihat ibu yang sedang memasak dibantu oleh kakak. Saya langsung berjalan menuju ibu dan menjelaskan tentang acara perayaan Hari Ibu. “Cepat ambil mericanya! Kok lama banget sih! Eh Rika… Ada apa sayang?” Jawab ibu dengan cepat.
Kembali kujelaskan adanya perayaan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember dan ini adalah pertama kalinya sekolahku merayakan hari ibu. Aku juga mencoba membujuk ibu untuk hadir di perayaan ini agar aku bisa memamerkan seberapa cantik ibuku dan betapa handal dalam memasak. Tetapi jawaban yang aku dapatkan adalah, “Ini tolong diantarkan ke meja 3 dan 4, kalau yang ini tolong ke meja 6! Eh maaf Rika, ada apa ya?”
Dengan penuh amarah, aku langsung lari ke atas kamar aku dan mengunci pintu.
15 Desember 2015: Semakin Mendekat
Sudah beberapa minggu berlalu. Minggu depan adalah Hari Ibu. Semua teman di kelas sudah mempersiapkan sebuah surat berisi ucapan terima kasih kepada ibu mereka masing-masing dengan dekorasi yang menarik. Sedangkan aku, hanya memiliki surat putih yang berisi ucapan terima kasih kepada ibu. Tapi surat aku ditulis dengan terpaksa dan aku tidak pernah melihat kebaikan dari ibu aku sendiri. Saya makin meragukan ibuku akan datang di perayaan mendatang.
22 Desember 2015: Hari Ibu
Hari ini lah yang ditunggu tunggu. Seperti biasa aku berjalan sendiri ke sekolah dan aku betul karena ibu pasti lupa tentang perayaan ini. Saat masuk sekolah bisa terlihat banyak ibu yang menggandeng anaknya masing-masing. Kami semua terduduk di ruangan auditorium yang sangat besar seperti sebuah teater. Aku terduduk di sebelah ibu-ibu yang aku tak kenal dan yang pastinya di sebelahku adalah kursi yang kosong. Setelah melihat keliling, bisa terlihat semua tempat duduk terisi kecuali yang di sebelahku. Pembawa acara sudah naik ke atas panggung dan acara sudah akan dimulai.
Banyak penampilan dari murid-murid menyanyikan lagu Hari Ibu. Menurutku, perayaannya sangat bosan karena kita hanya duduk di kursi dan menonton. Beberapa jam berlalu dan aktivitas terakhir adalah foto bersama ibu masing-masing. Salah satu anggota OSIS menggunakan kamera langsung cetak mereka untuk memotret. Sesampai giliranku, aku hanya bisa berdiri sendiri dengan surat yang masih kugenggam. Setelah berfoto, kudapat foto hasil dari kamera langsung cetak. Dengan rasa malu, aku langsung berlari keluar auditorium. Setelah membuka pintu auditorium, aku langsung melempar foto hasilnya dan surat yang aku buat ke lantai. Aku sudah jamin, Ibu sudah tidak peduli denganku samasekali.
9 Mei 2016: Hampir Tamat
Sudah beberapa bulan sejak Desember lalu, aku baru menulis buku harian ini lagi. Beberapa bulan ini sedang sibuk mempersiapkan ulangan dan akhirnya ulangan pun selesai. Aku sudah beritahu kakak untuk beritahu ibu tentang acara tamatnya sekolah pada tanggal 23 Mei. Sepertinya, ibu lebih mendengar perkataan kakak dibanding perkataanku.
21 Mei 2016: Cinta Seorang Koki
Hari ini, aku diajak kakak pergi jalan-jalan ke taman. Kami berjalan cukup lama menikmati udara segar yang jarang ada. Kami berbaring di bukit rerumputan memandangi langit yang biru. Tiba-tiba kakak memberi pertanyaan yang sangat sulit dijawab, “Kok kamu jahat banget sih sama ibu?”
Aku bercerita dengan terpatah-patah tentang ketidakpeduliannya, lebih mendengar perkataan kakak dan tidak hadir di Hari Ibu tahun lalu. Juga aku mengira kakaklah anak kesayangan ibu selama ini. Tetapi kenyataan di balik setelah penjelasan kakak berikut ini.
“Hah? Kakak?” Kakakku tertawa. “Bukannya kamu! Kakak mengerti ibu itu orangnya sangat sibuk, tapi uang yang dihasilkan kan untuk kamu juga kan? Kenapa kakak bilang ibu paling sayang kamu ada banyak alasan nih. Dimulai dari sesudah ibu memukul mu hari itu. Sesudah kamu tidur, ibu menyuruh saya memberinya salep dan ibulah yang mengolesi di bekas pukulannya. Makanya besok pagi sudah hilang kan? Dan juga foto yang kamu jatuhkan di sekolah. Ibu padahal sudah sampai sekolah lho. Malahan melihat kamu lari keluar sekolah. Setelah melihat gambar kamu sendirian, ibu menyuruh saya untuk memotret dirinya lalu digunting ditempel di samping kamu di dalam foto. Saat jam istirahat jam 12, saya melihat ibu menangis terharu membaca surat yang kamu tulis waktu itu. Juga, tau kah kamu setiap malam ibu memberi kecupan malam hanya untuk kamu?“
Perkataan yang diucapkan kakak sangat menusuk di dadaku. Setelah mendengarnya, aku sangat kehabisan kata. Lalu kakak hanya mengajak untuk kembali pulang.
23 Mei 2016: Hari Kelulusan
Hari ini, aku berjalan dengan ibu dan kakak ke sekolah. Di dalam pikiranku, masih teringat perkataan kakak. Sambil berjalan sambil berpikir. Bagaimana caranya aku meminta maaf kepada ibu? Pikiran itu terputus setelah kami sampai di depan sekolah.
Seperti acara kelulusan biasa, kami akan berfoto dengan keluarga masing masing dan mengucapkan terimah kasih kepada satu sama lain. Setelah semua selesai, aku berjalan ke arah ibu dan menggenggam tangannya. Dengan rasa bersalah, aku meminta maaf atas segala hal yang aku lakukan. Ibu pasti merasa sakit di hati tetapi tidak mengekspresikan keluar. Aku menyampaikan bahwa selama ini aku salah terhadap ibu. Tetapi… sesudah penjelasan yang panjang lebar, ibu hanya tertawa dan menasihatiku untuk menjaga diri baik baik di kuliah nantinya dan jangan lupa telepon ibu setiap malam di hari biasa. Ibu juga mengatakan akan lebih memperhatikan anak anaknya. Setelah nasihat ibu, dia memberikan kecupan di keningku dan mengatakan “Selamat ya, Nak!”
Makna yang kudapatkan dalam kejadian ini adalah semua ibu pasti menyayangi semua anaknya. Dan juga selalu memaafkan anaknya jika berbuat salah. Pasti ibu akan menyimpan rasa sakitnya di dalam dan menyembunyikannya dari anak mereka agar kita tidak bersedih. Saat nanti ke kuliah, pasti rasanya sangat berbeda. Tidak ada berpamitan pagi lagi dan pasti aku akan merindukan masakan ibuku. Jadi… aku sangat bangga dan senang dengan ibuku dan dia adalah idolaku…
_Merayakan Hari Ibu, 22 Desember 2016_














Comments