Mengapa Menulis Itu Penting
- Oct 3, 2016
- 3 min read
“Workshop jurnalistik ini seru dan membuat kita lebih giat untuk menulis artikel terutama di blog jurnalistik JNY,” ungkap Nadya, anggota klub jurnalistik Jakarta Nanyang School (JNY). Luapan antusias tersebut berlangsung selama kegiatan Workshop Jurnalistik yang berlangsung pada tanggal 26 September 2016. Bertempat di Ruang Audio Visual JNY, kegiatan ini diikuti oleh seluruh anggota Klub Jurnalistik sebanyak 20 siswa, dan 22 siswa lain dari Junior College yang tertarik. Acara yang digagas oleh Klub Jurnalistik Departemen Bahasa Indonesia JNY ini, mengundang Imam Prihadiyoko (wartawan senior Kompas), Retmawati (Penyelaras Bahasa Kompas), dan Nanik Dwiastuti (Penyelaras Bahasa Kompas) sebagai pembicara.
Tujuan dari kegiatan ini adalah membantu para anggota klub jurnalistik dan siswa-siswi peserta lain untuk mempelajari teknik-teknik menulis yang bagus agar mereka bisa menjadi penulis yang handal dan sukses. Selain itu, diharapkan dapat belajar dan mengetahui cara untuk mempertajamkan dan mengasah keterampilan menulis para siswa.
Menulis dengan bagus bukan hanya membantu kami menjadi seseorang yang lebih pintar dan kreatif, namun juga berkaitan dengan belajar memahami struktur dan teknik dasar. Menulis juga memberi kami keterampilan komunikasi dan kemampuan berpikir dengan lebih rinci dan mendalam. Menulis adalah suatu alat yang kami bisa gunakan untuk mengekspresikan diri dan pikiran kami. Suatu cara untuk menceritakan kisah dan lebih mengetahui dunia di sekitar kami. Ada banyak bentuk dan cara untuk menulis. Apabila melalui novel, artikel, cerpen, puisi, dan seterusnya, kami bisa menggunakan media-media tersebut untuk mengekspresikan diri sendiri.
Apa konsep yang harus selalu diingat oleh seorang penulis? Berdasarkan pernyataan Pak Imam, salah satu wartawan senior yang menjadi narasumber di workshop ini, seorang penulis – maupun penulis artikel, penulis cerpen, pengarang novel – harus menulis dari hati. Mengapa? Agar tulisan yang dibuat pun sampai di hati pembaca.
Pak Imam juga berbagi ilmu mengenai ‘5W, 1H’ yang merupakan senjata seorang penulis. Dengan senjata tersebut, sebuah cerita bisa ditulis secara rinci dan tepat. Orang yang membaca karya itu bisa mengalami situasi itu sepenuhnya, dan dapat merasa bahwa dia sendiri di sepatu penulis itu. Bapak Imam juga memperkenalkan konsep menggunakan imajinasi kami dan membantu kami menyadar kepentingan memanfaatkan kreativitas ketika kami sedang menulis. Dengan tips dan nasihat yang diberi oleh Bapak Imam, sekarang kami lebih mengetahui cara-cara baru untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas karya tulisan kami.
Dalam sesi kedua, Ibu Retmawati dan Ibu Nanik Dwiastuti, para Penyelaras Bahasa Kompas, berbicara tentang beberapa hal yang kami harus perhatikan ketika menulis dan mengedit artikel. Mereka berelaborasi tentang penggunaan bahasa dengan baik dan benar. Yang paling penting adalah penggunaan kata. Ibu Retmawati menjelaskan bahwa kata-kata yang kami gunakan sangat penting. Dan ketika menggunakan kata-kata ini, kami harus lebih teliti dan menggunakannya dengan benar. Contohnya: menggunakan kata ‘tahu’ dan bukan ‘tau’, ‘saya’ dan bukan ‘gue’, dan seterusnya. Kita harus lebih cermat dengan ejaan kata dan lebih menganalisis kata baku.
Ibu Retmawati dan Ibu Nanik memberikan contoh yang gampang dimengerti. Misalnya: “Ayo makan ayah”, dan “Ayo makan, ayah” adalah dua kalimat yang mempunyai arti yang sangat berbeda. Untuk membantu kami lebih mengerti, kami diberi latihan untuk mengevaluasi dan memperbaiki beberapa foto-foto yang mempunyai kesalahan gramatikal.
Latihan terakhir yang kami lakukan adalah membuat naskah sendiri, dengan hanya menggunakan imajinasi dan kreativitas sendiri. Menurut saya, workshop ini sangat bermanfaat dan bardampak untuk diri saya sendiri, dan tentu saja membuat minat saya dalam menulis dalam Bahasa Indonesia tambah besar. Dari awal, saya sangat bersemangat untuk berpartisipasi dalam workshop ini karena saya sangat ingin meningkatkan kemampuan menulis saya dan belajar lebih banyak tentang bahasa negeri saya.
“Pembicaranya sangat mengetahui materinya, sehingga para peserta workshop dapat mempelajari sesuatu dengan mudah,” ucap Kenley, salah satu murid yang berpartisipasi dalam acara ini.
“Menurut saya, workshop ini sangat berguna dan membantuku, tetapi workshopnya sendiri tidak sesuai dengan harapan saya.” Ujar Cindy, Presiden klub jurnalistik JNY. “Saya punya saran agar workshop jurnalistik ini seharusnya lebih interaktif dan mempunyai lebih banyak aktivitas yang menyenangkan,” tambahnya.
Di akhir workshop, Ibu Retmawati dan Ibu Nanik memberikan saran yang memotivasi siswa agar tetap semangat belajar menulis. “Tetap rajin nulis. Makin sering, makin terlatih, makin bagus, jangan takut salah, pokoknya tulis saja. Naskah yang diterima tadi juga sudah bagus banget. Dari awal, semua murid juga sangat responsif.”




























Comments