Meniadakan Diskriminasi Rasial Melalui Pendidikan
- Sep 29, 2016
- 6 min read
Salah satu isu yang paling menonjol dalam kampanye calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik dan Demokrat yang saat ini sedang berlangsung adalah persoalan rasial. Amerika Serikat merupakan salah satu negara di dunia yang sangat heterogen dari segi ras.
Warga Amerika Serikat berasal dari macam-macam suku bangsa. Beberapa yang terbesar adalah suku asli Amerika, keturunan Afrika, keturunan Asia, keturunan Amerika Latin, dan keturunan Eropa. Sejak zaman perbudakan hingga beberapa dekade yang lalu, warga Amerika keturunan Eropa mendapat keistimewaan dalam banyak bidang seperti politik, pendidikan, ekonomi dan kepemilikan tanah.
Ekspresi diskriminasi rasial menjadi semakin kelihatan ketika Donald Trump, kandidat presiden dari Partai Republik, menyatakan keinginannya untuk membangun tembok untuk membendung masuknya imigran Meksiko. Selain itu, melalui pernyataan-pernyataannya di muka umum termasuk yang disampaikan lewat media sosial seperti Twitter yang cenderung mendiskreditkan warga Amerika selain keturunan Eropa.
Bersamaan dengan kampanye calon presiden, terjadi beberapa kasus penembakan yang melibatkan warga Amerika keturunan Afrika di beberapa tempat di Amerika baru-baru ini. Apa yang sedang terjadi ini semakin mempertegas adanya garis pemisah yang membedakan antara “kami” dan “mereka” dalam masyarakat Amerika modern.
Persoalan rasial di Amerika sangat disadari oleh warganya. Berdasarkan hasil polling yang dilakukan CNN sebagaimana yang dilaporkan Catherina E. Schoichet pada 25 November 2015, mayoritas responden (49%) menyatakan bahwa persoalan rasial menjadi masalah besar bagi warga Amerika saat ini. Temuan ini lebih besar dibandingkan pada tahun 2011 yang kisarannya hanya 28% yang menyatakan hal serupa.
Serupa dengan Amerika Serikat, Indonesia merupakan negara dengan komposisi penduduk yang sangat majemuk. Masyarakat Indonesia berasal dari berbagai macam suku, ras, agama dan aliran kepercayaan. Kalau di Amerika yang sudah maju persoalan rasial masih sangat terasa, bahkan menjadi isu krusial dalam pemilihan presiden, apalagi di Indonesia yang mayoritas masyarakatnya rentan terprovokasi. Seperti di Amerika, di negara tercinta kita ini, persoalan rasial juga sangat terasa dalam bidang politik, ekonomi dan pendidikan. Hal itu sangat terlihat menjelang pilgub DKI yang sedang dalam proses penjaringan calon gubernur saat ini.
Bila kita mencermati berita media massa dan juga media sosial, suara-suara yang cenderung rasialis masih sangat kencang. Mereka cenderung melihat para calon gubernur bukan dari segi prestasi melainkan dari segi latar belakang suku, ras dan agamanya. Dan kita semua sadar bahwa sikap seperti itu tidak benar dan tidak sesuai dengan semangat bangsa kita yang berlandaskan Pancasila dan UUD tahun 1945.
Selain tampak dalam kontestasi politik di Jakarta, persoalan rasial juga terjadi di Yogyakarta baru-baru ini. Situasi terakhir yang melibatkan mahasiswa Papua di Yogyakarta sangat mencederai semangat kebangsaan kita oleh karena diskriminasi dan tindak kekerasan yang cenderung tidak manusiawi yang dilakukan terhadap mahasiswa asal Papua di Yogyakarta, lepas dari kenakalan yang mereka telah lakukan di tengah masyarakat kota Yogyakarta.
Dalam bidang ekonomi, masyarakat kita cenderung dikelompokkan berdasarkan ras. Sebut misalnya, orang cenderung beranggapan bahwa WNI keturunan Tiongkok adalah kaum kaya, sementara WNI dari suku lainnya cenderung dianggap miskin. Lepas dari benar tidaknya anggapan-anggapan ini, sikap kita sebagai bangsa yang cenderung membiarkan anggapan-anggapan itu menyebar telah turut memberi andil bagi terciptanya pengelompokan WNI berdasarkan label-label atau anggapan-anggapan yang tidak sepenuhnya benar. Bahkan jelas-jelas menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan NKRI seperti yang dicita-citakan para Founding Fathers.
Meskipun demikian, Indonesia beruntung karena memiliki aset bersama yang bisa merekatkan sekaligus memberi harapan sebagai bangsa untuk bebas dari persoalan rasial di masa depan. Yaitu Pancasila sebagai Dasar Negara dan Pedoman Hidup yang mengakui dan menghargai kebhinekaan yang dimiliki bangsa Indonesia.
Paparan di atas menunjukkan bahwa diskriminasi rasial merupakan persoalan yang terjadi di mana-mana dan telah lama ada, dan masalah rasial merupakan persoalan yang sangat serius. Oleh karena keseriusan dan kemendesakannya, maka seluruh warga harus sama-sama berikhtiar dan berupaya untuk segera menghilangkannya dari bumi tercinta dengan memperkuat semangat kebersamaan dan persatuan.
Wujud dari diskriminasi rasial adalah memperlakukan seseorang secara tidak adil berdasarkan ras mereka. Diskriminasi rasial bisa muncul dari sikap sadar atau tidak sadar, yang menempatkan seseorang lebih rendah berdasarkan rasnya daripada orang lainnya. Pertanyaannya, apa dan bagaimana cara yang paling tepat untuk menghilangkan diskriminasi rasial itu dari bumi pertiwi? Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat bervariasi. Dua yang terpenting adalah melalui pendidikan di dalam keluarga serta lingkungan masyarakat dan melalui pendidikan formal di sekolah. Dalam tulisan singkat ini, saya hendak mengambil fokus pada pendidikan di lingkungan sekolah dengan memberikan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan di dalam ruang kelas.
Penerapan Pendidikan Multikultural
Mengutip Prof. Dr. Farida Hanum, M.Si dalam tulisannya yang berjudul Pendidikan Multikultural dalam Pluralisme Bangsa, pendidikan multikultural paling tidak menyangkut tiga hal, yaitu: (a) ide dan kesadaran akan nilai penting keragaman budaya, (b) gerakan pembaharuan pendidikan, dan (c) proses. Berkaitan dengan kesadaran akan pentingnya keragaman budaya, kepada siswa harus ditanamkan bahwa perbedaan yang ada itu merupakan suatu keniscayaan atau kepastian, namun perbedaan itu harus diterima secara wajar dan bukan untuk membedakan. Artinya, perbedaan itu perlu diterima sebagai suatu kewajaran dan karena itu diperlukan sikap toleransi agar masing-masing dapat hidup berdampingan secara damai.
Pendidikan multikultural harus pula menjadi sebuah gerakan yang bersifat pembaharuan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi riil masyarakat. Bila situasi memungkinkan atau kondisi setempat mengharuskan, maka pendidikan multikultural bisa dijadikan bidang studi tersendiri, atau setidaknya menjadi program dan praktik yang direncanakan lembaga pendidikan untuk merespon tuntutan, kebutuhan, dan aspirasi berbagai kelompok di mana lembaga pendidikan itu didirikan.
Meski demikian, harus disadari bahwa pendidikan multikultural itu merupakan suatu proses yang tidak pernah selesai, melainkan berlangsung terus-menerus. Tujuannya tidak pernah bisa langsung tercapai lalu selesai, melainkan dia selalu dalam proses menjadi. Sadar akan kondisi itu, maka sekolah harus selalu memastikan bahwa proses pendidikan yang diselenggarakan mengakomodir realitas perbedaan dalam proses yang dilaksanakan di kelas.
Jakarta Nanyang School (JNY) sebagai sekolah berstatus Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) sangat menyadari hal ini. Di dalam ruang kelas JNY, Anda akan dengan mudah menemukan relaitas perbedaan itu. Baik dari sisi latar belakang etnis para peserta didik dan gurunya maupun dari sisi tingkat kemampuan serta bakat dan minat dari peserta didik itu sendiri. Patut disadari, tanpa adanya upaya konkrit untuk mempertimbangkan realitas keberagaman dalam proses pendidikan maka keberagaman itu akan tetap begitu adanya. Tidak memberi manfaat bagi pembangunan karakter peserta didik menjadi anak yang terbuka terhadap keberagaman, seraya menerimanya sebagi realitas hidup yang harus diterima dan disyukuri.
Ada beberapa ide konkrit yang bisa dilakukan sebagai penerapan pendidikan multikultural untuk mengatasi persoalan rasial di dalam lingkungan sekolah. Berikut ini beberapa ide yang patut untuk dipraktikkan:
Anak didik harus benar-benar disiapkan untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat lintas budaya. Untuk itu JNY mengadakan kegiatan seperti Global Discovery Programme (GDP) dan Experiential & Expedition (E&E)Week. Selain kedua program ini peserta didik juga dibantu dan didorong untuk ikut serta dalam kegiatan peduli lingkungan sekitar. Pada kesempatan itu peserta didik dapat melakukan kegiatan bersama dengan anak-anak kampung yang ada di lingkungan sekitar sekolah.
Untuk dapat mempersiapkan anak didik secara memadai, para pendidik juga harus benar-benar disiapkan agar mereka memiliki kecakapan yang diperlukan untuk membantu anak didiknya untuk belajar secara efektif di tengah lingkungan belajar yang sungguh majemuk tanpa menjadi tertutup terhadap orang lain. Guru-guru JNY telah berpengalaman dalam mengajar di berbagai institusi pendidikan dengan latar belakang yang berbeda. Guru JNY juga disiapkan untuk menghadapi anak-anak yang berbeda di dalam lingkungan sekolah dengan menyediakan informasi tentang peserta didik yang dilakukan oleh Counseling Department. Selain itu tiap-tiap departemen juga menyediakan waktu khusus untuk mengadakan Professional Sharing di antara para guru di dalam departemen yang sama.
Sekolah sebagai lembaga tempat di mana proses belajar terjadi harus juga menunjukkan perannya dengan turut serta untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan yang sifatnya merespon kebutuhan riil masyarakat tempat di mana sekolah itu didirikan. Hal itu bisa dilakukan dengan turut ambil bagian untuk mengatasi masalah sosial yang ada di sekitar lingkungan sekolah, misalnya dengan mengadakan kerja bakti, mengadakan pelayanan sosial terhadap keluarga yang kurang mampu, membuka kesempatan bagi anak-anak di sekitar sekolah untuk turut menggunakan fasilitas sekolah atau melakukan kegiatan bersama dengan anak didik di sekolah yang bersangkutan. JNY telah melakukan kegiatan semacam ini sejak tahun pertama operasionalnya.
Dalam praktik di ruang kelas, pendidikan harus berpusat pada siswa dengan memerhatikan aspirasi dan pengalaman siswa. Siswa dilibatkan dalam memutuskan sesuatu yang akan berguna bagi pengembangan dirinya.
Melakukan kegiatan yang sifatnya cross-culture learning agar anak didik sungguh bisa belajar dari perbedaan dan menerima perbedaan sebagai keniscayaan yang harus diterima dan dapat berdamai dengan perbedaan itu.
Daftar kegiatan bisa sangat panjang. Intinya adalah anak didik harus belajar dan mampu untuk merespon secara tepat setiap perbedaan yang ada dalam masyarakat, atau yang akan dijumpainya dalam seluruh peziarahan hidupnya. Bukan justru menjadi bagian dari orang yang menciptakan tembok pemisah atau jurang yang dalam antarwarga masyarakat demi memuaskan syahwat politiknya sendiri.














Comments