Pelajar, Tembok Rumah, dan Dunia Tanpa Batas
- Sep 13, 2016
- 3 min read
Konteks tulisan ini sebenarnya kurang mewakili Indonesia secara keseluruhan. Penulis mengambil konteks tulisan ini mungkin hanya terjadi di kota-kota besar. Ruang lingkup pergaulan para siswa (baca: pelajar) yang hanya terbatas antara sekolah dan rumah, lalu rumah dan sekolah. Hal ini perlu dipertegas di awal tulisan.
Dunia para pelajar saat ini kadang sangat sempit. Mereka berada di antara himpitan tembok rumah, lalu beralih ke tembok gedung sekolah. Jika beruntung, mereka sedikit menikmati pemandangan lain, namun juga di balik himpitan tembok, yaitu pusat perbelanjaan atau pusat hiburan. Minimal itu mereka jalani dalam lima hari sekolah. Kadang akhir pekan, mereka bisa diajak keluar. Apesnya, akhir pekan yang seharusnya bisa untuk jalan-jalan, namun mereka tetap terkurung di rumah.
Kondisi seperti inilah yang akan diangkat dalam tulisan ini. Tentu setiap orang memiliki komentar dan ekspresi berbeda akan kondisi ini. Bagi sebagian orang, mungkin tidak percaya dengan kondisi tersebut. Lainnya, bisa mengamini, namun mengganggapnya hal yang biasa. Ah, hal seperti itu mah biasa saja, tidak ada yang luar biasa. Begitu kira-kira ekspresi mereka.
Kita pun mencoba menebak, mendengar pengakuan, atau dibagikan cerita dari mereka yang melihat, atau mengalami hal seperti ini. Kita menebak, kira-kira apa yang dilakukan oleh pelajar yang kehidupannya hanya antara rumah dan sekolah. Kita juga mungkin mendengar pengakuan bahwa memang itu benar-benar ada. Kita makin bisa memahami kalau kita sendiri yang mengalami.
Masa Belajar Adalah Masa Eksplorasi
Masa kanak-kanak sampai remaja (baca: masa belajar) adalah masa eksplorasi. Belajar identik dengan keingintahuan akan suatu hal. Kita dituntut untuk selalu mencari tahu. Proses mencari tahu ini bisa karena dorongan individual (internal). Namun, dalam konteks masa belajar, proses mencari tahu biasanya diperoleh karena dorongan dari luar (eksternal). Dorongan itu pada umumnya berhubungan dengan pengetahuan atau tugas yang sedang mereka gali di sekolah.
Kita sepakat bahwa hidup tidak hanya soal menggali pengetahuan. Ada hal lain yang justru sangat membutuhkan eksplorasi yaitu kemampuan sosial dan emosional. Kedua hal ini tentu sangat terbatas untuk digali jika dibatasi oleh tembok rumah dan tembok sekolah. Kita bisa bergaul dengan banyak orang di sekolah, namun tentu sangat monoton, karena orang yang sama saja yang kita temui setiap hari. Begitu kita kembali ke rumah, ada yang bisa bertemu dengan keluarga yang lengkap. Celaka lagi, jika hanya sebagian anggota keluarga yang kita temui. Orang tua apalagi, lebih sibuk mengurus pekerjaan daripada berkumpul bersama keluarga di rumah.
Di mana generasi atau pribadi seperti ini bisa menemukan diri mereka dalam proses eksplorasi ini? Ini pertanyaan yang cukup sulit dijawab. Apalagi hal ini adalah kenyataan. Ada pelajar yang memang sudah seperti itu kehidupannya.
Hidup yang dibatasi oleh tembok rumah lalu berpindah ke tembok sekolah. Bergaul dengan orang yang sama, menjenuhkan, dan terpaksa. Tak punya pilihan lalu menganggap seperti itulah kenyataan hidup mereka.
Dunia Tanpa Batas
Kita sepakat bahwa saat ini hampir tidak ada sekat dalam pergaulan. Namun, ini jika kita berbicara dalam konteks komunikasi dunia maya. Juga soal eksplorasi, siapa pun bisa mengekplorasi apa pun. Tentu lewat layar yang dihubungkan oleh koneksi internet. Demikian pun dengan para pelajar generasi saat ini.
Bahwa jarak bukanlah menjadi pembatas. Bahwa pertemuan tidak harus bertemu wajah. Bahwa bertemu wajah tidak harus saling bersalaman. Semua menjadi tiada batas.
Pengetahuan tidak hanya dari guru/pengajar. Bahwa ilmu tidak hanya dari buku. Bagaimana melakukan sesuatu, tidak harus minta diajarkan secara langsung. Apa pun biasa dilakukan walaupun berada di balik tembok yang paling tinggi dan tebal sekali pun.
Generasi saat ini adalah generasi tanpa batas. Bahwa sangat tipis membedakan sekat fisik dan sekat maya. Apakah hal itu menimbulkan efek positif atau negatif, hasilnya pasti seri alias draw. Jika diperdebatkan akan menimbulkan debat kusir.
Hal ini kemudian menjadi kenyamanan bagi orang-orang yang sudah terbiasa hidup dalam sekat fisik, dengan kata lain pelajar generasi saat ini. Bagi mereka, hidup itu tak harus bertemu dan bergaul dengan siapa pun. Bahwa saya bisa nyaman dengan seharian saya bisa berada di rumah. Bahwa kadang tembok sekolah menjadi penjara. Ada pemaksaan dalam belajar, berpikir, dan memperoleh pengetahuan.
Bagi mereka kenyamanan adalah berselancar dalam media sosial, game yang menyedot waktu, atau sibuk menonton berbagai film dan video. Hidup menjadi nyaman dan menyenangkan dengan gadget dan internet. Ketiadaan koneksi internet dan gadget adalah kehampaan dalam hidup mereka.
Begitulah dunia terus berputar. Jika diandaikan sebagai roller coaster, jika tidak kuat kita akan menjadi pusing, berteriak sendirian, mencaci maki, namun tetap menikmatinya. Menghadapi generasi pembelajar seperti ini dengan pengajar dari generasi sebelumnya kadang menimbulkan gesekan bahkan benturan. Kita bahkan makin sulit menebak bagaimana dengan generasi pelajar di masa mendatang.














Comments