Ketika Moral Terabaikan Zaman
- Aug 30, 2016
- 3 min read
Masih ingatkah masa-masa duduk di bangku sekolah dasar? Masa ketika keceriaan meliputi setiap anak pada saat itu. Bermain bersama penuh canda tawa, serasa tidak ada beban yang hinggap di pundak mereka. Tidak ada keegoisan di antara mereka.
Betapa rindu masa-masa seperti itu. Mungkinkah masa penuh keceriaan itu bisa kembali? Hanya angan-angan yang bisa membawa kembali kenangan masa itu. Saat kita dihadapkan pada kondisi masa kini, ah… rasanya ingin lari dari kenyataan. Namun itu pun tak bisa kita eksekusi. Miris dan sedih tepatnya melihat kondisi saat ini.
Memang benar zaman sudah berubah. Tak bisa disamakan dengan masa lalu. Namun perubahan itu haruskah mengubah segalanya termasuk MORALITAS bangsa kita? Kalau kita mendengar bahkan melihat berita baru-baru ini banyak pembunuhan dan pemerkosaan anak usia dini. Lebih menyedihkan lagi, balita yang menjadi korban kebejatan manusia yang tak bertanggung jawab, tepatnya tak memiliki hati NURANI. Ada apa dengan NEGERI ini?
Konon Indonesia negeri yang ramah penduduknya. Yang santun tindak tanduknya. Ke mana perginya semua itu? Apa karena zaman sudah maju maka moralitas terabaikan? Benar zaman sudah berubah. Perkembangan informasi dan teknologi pun maju pesat, namun setelah kita amati dengan saksama ternyata ada pola gaya hidup yang salah atau kurang bijak dalam menyikapi perkembangan zaman saat ini. Terutama kemajuan di bidang teknologi. Ada nilai positif dan negatif dari perkembangan teknologi saat ini.
Banyak masyarakat kita yang kurang bijak dalam menggunakan teknologi. Justru sisi negatif yang banyak menonjol ketimbang sisi positif. Anak-anak hingga orang tua sekarang sibuk dengan gadget masing-masing. Bahkan ketika sedang ada acara kumpul keluarga, yang terjadi justru sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri. Dekat serasa jauh. Dampak pada anak-anak pun mmebuat mereka kurang pandai bersoasialisasi dengan lingkungan. Bahkan dengan keluarga sendiri pun enggan saling sapa. Gadget menjadi prioritas daripada bercanda dan berkumpul dengan keluarga. Lebih mirisnya lagi gara-gara tidak bijak menggunakan teknologi mereka meniru atau mencontoh hal-hal negatif atau gaya hidup yang tidak sesuai dengan adat istiadat ketimuran. Siapakah yang harus disalahkan dengan semua kondisi saat ini? Menyalahkan zaman yang sudah berubah atau menyalahkan orang yang menciptakan teknologi? Saya rasa tidak ada gunanya bahkan lebih tepatnya tak bijaksana. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus menolak teknologi? Itu pun rasanya tidak mungkin.
Mengapa perkembangan zaman justru mengakibatkan kemerosotan moral? Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kesadaran untuk berperilaku yang benar. Terkadang kita hanya mengikuti gaya hidup yang lagi tren tanpa memilah-milah terlebih dahulu mana yang pantas dan tidak pantas untuk kita lakukan. Kebanyakan masyarakat kita melakukan hal seperti ini supaya tidak dibilang ketinggalan zaman. Tanpa kita sadari perilaku-perilaku tersebut menimbulkan efek negatif yang merugikan diri kita sendiri, pun bisa berimbas pada orang lain.
Cara paling ampuh yang dapat kita tempuh untuk mengubah kondisi yang buruk saat ini adalah memulai dengan perubahan pada DIRI SENDIRI. Seperti kutipan Leo Tolstoy, penulis novel terkenal dari Rusia,
“ Semua orang berpikir ingin mengubah dunia, tapi tak satu pun berpikir untuk merubah dirinya sendiri” .
Akan sangat sulit bagi kita untuk menyuruh orang lain untuk bisa mengubah kebiasaan buruk yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun, telah mendarah daging atau sudah menyatu pada diri mereka. Kalimat yang ditulis oleh Leo Tolstoy menggambarkan dengan jelas bahwa masyarakat kita masih jauh dari kesadaran untuk bisa mengubah diri sendiri. Saya yakin apabila setiap individu memiliki kesadaran yang kuat untuk mau berubah, pasti akan terjadi sebuah perubahan pada masyarakat kita saat ini.
Berubahlah dari hal yang terkecil terlebih dahulu, karena perubahan yang besar terjadi apabila kita mampu mengubah hal yang kecil. Kebiasaan-kebiasaan buruk yang sifatnya kecil kadangkala kita sepelekan. Contoh hal kecil bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari: membuang sampah pada tempatnya, taat berlalu-lintas, maupun menyapa orang lain penuh keramahan.
Mari kita sama-sama memulai perubahan dari diri sendiri. Niscaya perubahan besar pun akan terwujud.














Comments