top of page

SENJA KALA PENDIDIKAN KONVENSIONAL

  • May 16, 2016
  • 2 min read

Anda pasti mendengar adagium yang berbunyi, “Tidak ada yang abadi di bawah kolong langit.” Adagium itu tepat. Tetapi lebih tepat lagi bila dikatakan, “Tidak ada yang abadi di bawah kolong langit selain perubahan”. Dalam berbagai aspek kehidupan, kita telah melihat kebenaran ucapan ini. Banyak hal yang biasa orang lakukan di masa lalu, kini tidak dilakukan lagi, atau setidaknya sudah sangat jarang dilakukan. Sebut saja misalnya, dalam hal berkomunikasi dengan saudara yang tinggal di berlainan tempat. Pada masa lalu biasanya orang harus berkiriman surat atau datang ke tempat saudaranya itu tinggal. Belum lekang dari ingatan kita, bahkan pada tahun 90-an, menjelang Natal dan Idul Fitri, Kantor Pos Besar di Lapangan Banteng dibanjiri dengan kartu ucapan. Kini hal itu tinggal kenangan.

Dalam dunia pendidikan sendiri, kita telah melihat terjadinya banyak perubahan. Pada masa awal kemerdekaan, para murid sangat akrab dengan batu kalam untuk menulis apa yang diajarkan guru. Kebiasaan itu bergeser ketika industri kertas berkembang pesat, para murid lalu tidak lagi menggunakan batu untuk menulis melainkan kertas. Maka masa kejayaan batu tulis pun berakhir.

Kita telah melihat bertumbuh pesatnya teknologi komunikasi saat ini. Bila Anda mengalami masa-masa awal ketika ponsel mulai bisa dimiliki oleh semua orang pada akhir 90-an atau awal 2000-an, Anda pasti tahu ponsel merek apa yang menguasai pasar. Nokia adalah penguasa pasar ponselpada satu atau dua dekade yang lalu. Tetapi sekarang Anda lihat, Nokia sudah hilang dari pasaran. Nokia gagal untuk menerapkan tren yang abadi di bawah kolong langit, yakni perubahan. Karena tidak berubah, tidak berinovasi secara memadai, maka Nokia hilang dari peredaran.

Generasi digital yang dididik di sekolah-sekolah saat ini sangat akrab dengan teknologi, utamanya teknologi komunikasi. Segala sesuatu yang ditawarkan oleh teknologi digital bersifat interaktif dan menarik. Anak-anak generasi digital atau yang orang sebut sebagai generasi Y sangat menyukai hal-hal yang sifatnya interaktif, tampilannya menarik, tidak statis dan membosankan. Hal itu tentu saja mempengaruhi cara mereka belajar dan mendapatkan informasi. Teks yang mereka baca melalui gadget yang selalu mereka pegang dilengkapi dengan gambar yang menarik bahkan 3 dimensi, video, musik dan fitur-fitur interaktif lainnya. Itulah dunia tempat mereka tumbuh. Maka, tidaklah mengherankan bila para guru menemukan kesulitan untuk mendorong mereka untuk membaca dari buku cetak atau handout. Bagi mereka, membaca teks yang tertulis di media kertas sudah tidak menarik lagi, karena mereka terbiasa dengan media yang interaktif dan jauh lebih menarik yakni buku digital misalnya.

Kecenderungan ini, pada saatnya akan berpengaruh terhadap praktik pendidikan yang masih sama saja sejak zaman orang Eropa membangun lembaga pendidikan yang seperti kita kenal hingga hari ini. Para murid dari generasi digital atau generasi Y cenderung bosan dan malas untuk mengikuti pelajaran yang cara dan metodenya serta media yang dipakai masih sama saja dengan yang digunakan di masa lalu. Mereka juga cenderung enggan untuk duduk terlalu lama di kelas.

Pemerintah dan masyarakat era digital harus memikirkan model pendidikan yang lebih cocok dengan anak-anak zaman ini. Ruang kelas semestinya tidak lagi terbatas para ruangan yang sempit, yang maksimal diisi oleh 40 murid itu. Saatnya kita menjadikan seluruh dunia, termasuk dunia maya, tempat anak didik kita berinteraksi sebagai ruang kelas mereka, di dan dari mana mereka belajar. Inilah saat lahirnya pendidikan zaman baru, senjakala pendidikan konvensional. Bagaimana institusi pendidikan konvensional harus menyesuaikan diri untuk mendidik anak-anak generasi Y? Anda pasti bisa menemukan jawabannya!


Comments


Featured Review
Tag Cloud
  • Grey Facebook Icon
  • Grey Twitter Icon
  • Grey Google+ Icon
bottom of page